Bagaimana harus kuartikan perasaan ini
Tak wajar rasanya ketika menyebutnya cinta
Karna terlampau tinggi dan tebal dinding yang ada
Jarak yang memisah kian tajamkan
Dekatnya hanya diangan saja
Mungkinkah terjadi?
Jawabnya lagi-lagi sulit terjadi
Ah..
Jika cinta memang tak mungkin adanya
Ijinkanku sekedar kagumi dan memujinya...
30.3.09
MAK AKU LAPAR...
Mak, aku lapar…!
Kapan kita bisa makan?
Ada nasi kan, Mak hari ini?
Atau kita harus puasa lagi?
Mak, aku sudah bosan…!
Tiap hari harus puasa lagi
Kenapa harus kita, Mak?
Kenapa bukan mereka yang bergembira
Kenyang makan harta rakyat jelata
Mak, aku iri…!
Kalau komunis saja bisa dibasmi
Lalu kapan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme dieliminasi?
Supaya kita tak perlu puasa lagi
Mak, aku lapar…!
Kapan kita bisa makan?
Ada nasi kan, Mak hari ini?
Atau kita harus puasa lagi?
Mak, aku sudah bosan…!
Tiap hari harus puasa lagi
Kenapa harus kita, Mak?
Kenapa bukan mereka yang bergembira
Kenyang makan harta rakyat jelata
Mak, aku iri…!
Kalau komunis saja bisa dibasmi
Lalu kapan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme dieliminasi?
Supaya kita tak perlu puasa lagi
Mak, aku lapar…!
TANGIS SAUDARA KAMI
Saudara kami menangis lagi
Rumah dan tanah mereka dirampas kembali
Demi kesenangan berkedok Modernisasi
Saudara kami menangis lagi
Sekolah anaknya harus berhenti
Sedang dia menganggur kini
Tak punya uang untuk pelicin para Petinggi
Saudara kami menangis lagi
Bergumam sampai kapan ini terjadi
Dimanakah Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme akan berhenti
Rumah dan tanah mereka dirampas kembali
Demi kesenangan berkedok Modernisasi
Saudara kami menangis lagi
Sekolah anaknya harus berhenti
Sedang dia menganggur kini
Tak punya uang untuk pelicin para Petinggi
Saudara kami menangis lagi
Bergumam sampai kapan ini terjadi
Dimanakah Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme akan berhenti
22.3.09
HAMPA DALAM MIMPI...
Hitam pekat terlukis pada awanku
Menggelayut erat diantara penat jiwa
Susunan hasrat diantara puing-puing gundah
Menapak pada bingkai hati yang resah
Membentuk lukisan jiwa yang gundah
Kapan lelah terselimut asa?
Mungkinkah guratan mimpi menghapus peluh?
Ketika Sang Mendung berangsur menghias
Saat Surya mulai enggan tuk tampak
Terasa bayang itu kian menghitam.. lebam..
Nestapa yang menghias diantara bimbang
Membawa imaji dalam gurat gelisah
Saat senja hadir di pematang hari
Alunan Asa dalam dekap sunyi hadir
Untuk menghapus setiap gelisah melalui mimpi...
Menggelayut erat diantara penat jiwa
Susunan hasrat diantara puing-puing gundah
Menapak pada bingkai hati yang resah
Membentuk lukisan jiwa yang gundah
Kapan lelah terselimut asa?
Mungkinkah guratan mimpi menghapus peluh?
Ketika Sang Mendung berangsur menghias
Saat Surya mulai enggan tuk tampak
Terasa bayang itu kian menghitam.. lebam..
Nestapa yang menghias diantara bimbang
Membawa imaji dalam gurat gelisah
Saat senja hadir di pematang hari
Alunan Asa dalam dekap sunyi hadir
Untuk menghapus setiap gelisah melalui mimpi...
KOSONG
Entah mengapa hatiku ini?
Gelisah senantiasa mengiringi..
Benci,
Entah apa yang kubenci..
Gundah,
tak tahu apa yang menggundah..
Sepi...
Tersakiti oleh rasa,
Terbunuh lara dada
Bukan..
Bukan karena tak punya cinta
Tapi..
Segurat penat mencekik asa,
Membungkam rasa,
Kosongkan jiwa..
Gelisah senantiasa mengiringi..
Benci,
Entah apa yang kubenci..
Gundah,
tak tahu apa yang menggundah..
Sepi...
Tersakiti oleh rasa,
Terbunuh lara dada
Bukan..
Bukan karena tak punya cinta
Tapi..
Segurat penat mencekik asa,
Membungkam rasa,
Kosongkan jiwa..
Langganan:
Postingan (Atom)